Tawuran dan bullying (kekerasan)

Sering terjadi kasus Tawuran yang mengakibatkan korban jiwa masih menjadi topik hangat kita berapa bulan ini. Sebenarnya ada bibit kekerasan fisik maupun mental yang enggak kalah buruk akibat dari tawuran. Kekerasan itu bahkan sering kali kita anggap ”biasa”. Itulah ”bullying”.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia “bullying” ialah intimidasi. Bentuk tindakan seperti menggangu, menyakiti, melecehkan yang dilakukan sengaja atau tidak sengaja, terencana, dapat bentuknya terus menerus terhadap seseorang atau sekelompok orang.

Korbanya para siswa dan siswi dan pelaku tak sebatas kakak kelas atau teman sebaya. Guru pun bisa melakukan bullying. “Celakanya, gue pernah di suruh mencari dana buat kakak kelas dengan memalak teman-teman sebaya. Lalu ketahuan dengan guru. Lalu gue bilang aja bahwa gue malah itu terpaksa karena di ancaman oleh kakak-kakak kelas. Hasilnya malah, gue di bilang cari-cari alasan saja. Emang gue udah di cap anak nakal sih,” sambungnya lagi. Ia merasa kecewa kepada sikap gurunya.

Bagaimana cara mengurangi bullying? Pertama-tama perlu ada pemahaman, kepada seluruh siswa-siswi, staf sekolah, guru-guru, maupun kepala sekolah sendiri tentang perilaku bullying dan seluk beluknya. Jadi dalam hal ini sebagai kepala sekolah dapat melakukan peningkatan kualitas kepada guru-guru maupun staf dengan pelatihan dan seringnya mengadakan diskusi mengenai bullying dalam penerapan ilmunya kepada murid-muridnya. Dengan begitu pendidikan karakter akan timbul bukan saja pada pelajaran ppkn melainkan setiap aktivitas di sekolah.

Saat tahu apa itu bullying dan dampaknya, seluruh anggota sekolah dapat terbangun kesadarannya akan sikap mereka. Ada pelaku yang langsung menghentikan sikap kerasnya, bahkan ada lahirnya gerakan anti kekerasan di sekolah dengan meningkatkan sikap menghormati, kasih, peduli, dan tolenrasi.

Sedangkan jika masing ada pelaku bullying lebih baik kalau pelaku diberikan sanksi bekerja sosial seperti merawat orang tua, atau membersihkan panti tempat tinggal anak yaitm. Firman Tuhan dalam Amsal 22:6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Sekolah dan pencitraan

Rencana langkah yang akan diambil pejabat Kemendikbud untuk menurunkan status SMAN 70 menjadi non-RSBI, nampaknya tidak akan berpengaruh signifikan. Persoalan tawuran bukan wilayah sekolah formal saja. Melainkan juga wilayah otoritas pribadi pelaku sendiri.

Menurunkan status sekolah hanya akan menciptakan alur berpikir yang justru berbahaya untuk dunia pendidikan ke depan. Andai semua sekolah menjaga “citra” dan mempertahankan segala pencapaian administrasi demi sebuah “status” karena terdorong oleh rasa was-was, akan mendapatkan penalti berupa penurunan status. Maka, mereka dengan pasti akan menciptakan sistem baru yang memungkinkan terjadinya seleksi peserta didik secara membabibuta.

Sekolah dilahirkan untuk mendidik siswa, bukan sekadar mengembangkan potensi mereka saja. Mendidik siswa, berarti mengangkat siswa dari kubangan wawasan yang sempit menjadi luas dan terbuka. Sehingga pribadi-pribadi ini siap membawa bangsa menuju perubahan positif.

Muncul juga pendapat serupa untuk melakukan kerja sama antar tiap kepala sekolah, agar menolak menerima siswa yang dianggap “pelaku tawuran”. Di sini kejanggalan terjadi. Mengapa? Karena tidak ada kesepakatan pasti mengenai “siapa yang disebut pelaku tawuran”. Siswa yang kebetulan berada di lokasi tawuran bisa jadi bukan pelaku. Sementara, siswa yang tidak berada di lokasi tapi bisa saja menjadi “otak” tawuran.

Penyebab Utama Tawuran

Otak Anak muda mempunyai pola pikir yang jauh berbeda dengan orang tua

Karena itu, masalah tawuran ini harus dipecahkan dengan pendekatan otak anak muda, Bila digali lebih dalam, ada beberapa sebab yang sering melatarbelakangi tawuran dan kekerasan fisik lainnya khususnya pada anak muda,Faktor yang sangat besar peranannya adalah faktor lingkungan, terutama lingkungan sekolah

Bila di lingkungan sekolah, ada budaya bullying, besar kemungkinan kekerasan dan tawuran di sekolah jadi sebuah tradisi,Ketika di suatu sekolah ada budaya bullying terutama ke adik kelas, akan timbul ‘rasa persaudaraan’ diantara para siswa yang angkatannya di bullying

Mirisnya, rasa persaudaraan dan rasa senasib inilah yang sering melatarbelakangi berbagai tawuran antar pelajar

Ketika teman kita dipukul, kita merasa ikut terluka

Ketika teman kita akan diserang, kita merasa ikut diserang

Ketika teman kita diganggu, kita merasa ikut diganggu

Mungkin pikiran ini aneh untuk mereka yang sudah dewasa dan orang tua, tapi begitulah yang sebenarnya terjadi

Jadi selalu ada pikiran ketakutan, ketidaktenangan, ketidakamanan

Dan pelampiasan dari semua pikiran ketakutan itu adalah dengan unjuk gigi dan pamer kekuatan menggunakan jalan kekerasan

itulah kenyataan yang ada Kekerasan, Sebenarnya mereka yang sering tawuran ini pun takut, tapi mereka tak punya pilihan

Mereka dipaksa keadaan,Keadaan yang terutama dilatarbelakangi oleh budaya Bullying..

Bila budaya Bullying ini dihapuskan, kekerasan di sekolah akan jauh berkurang

beberapa tahun yang lalu tepatnya saat SMP, kami mengalami hal yang sama

Bergabung dengan genk sekolah dan sering berkelahi,Bukan karena hobi atau kesenangan

Tapi semata karena rasa ketakutan,Rasa Ketakutan yang tersembunyi dibalik tampang jagoan

Cara mencegah tawuran

Berikut adalah tips terhindar dari tawuran pelajar, terutama siswa SMA, SMP/sederajat

Bekali diri dengan pengetahuan agama sebanyak-banyaknya. Di sekolah memang kita diajarkan juga pelajaran Agama, tapi spaling lama 2 jam seminggu, belum dibarengdi dengan maen-maen, dan juga pelajaran Agama disekolah lebih terfokus ke Nilai akhir ketika ujian (ahlak mah jauh), mungkin karna faktor inilah (kurangnya kesadaran beragama para siswa ) yang membuat para pelajar tidak punya pegangan untuk bisa menahan diri dalam pergaulan antar siswa. Ini juga bisa menjadi pesan serius untuk para orang Tua, untuk jangan hanya mengarahkan anak anak mereka untuk berprestasi dalam pelajaran-pelajaran dunia saja, akan tetapi harus diimbangi dengan prestasi ahlak dan budi pekerti dengan mengarahkan anak anak mereka untuk belajar agama di luar waktu sekolah

1. Pengawasan orang Tua. Tidak perlu menyewa intelegen khusus untuk melakukan tugas ini. Dengan menjalin komonikasi yang baik dengan anak, saya yakin sudah cukup membentengi anak dari pengaruh negatif lingkungannya.

2. Mengikuti kegiatan tambahan di sekolah. Mengikuti kegiatan kegiatan luar sekolah saya kira sangat ampuh untuk menyalurkan energi berlebih pada diri siswa.

3. Jangan mudah terprovokasi. teliti, cermati dan gali setiap informasi yang kita dengar, dan kita lihat, sebelum mengambil tindakan terhadap permasalahan tersebut.

4. Hindari nongkrong habis pulang sekolah. Nongkrong habis pulang sekolah sering menjadi pemicu awal terjadinya pertikaian antar sekolah. Jika suatu kelompok siswa bertemu dengan kelompok siswa dari sekolah lainnya, rentan sekali terjadi gesekan gesekan yang bisa memicu tawuran antar pelajar.

5. Jalin silaturrahmi antar sekolah, bisa dengan cara mengadakan pertandingan pertandingan olah raga antar sekolah.

6. Pesan untuk pemerintah daerah. Pembangungan sekolah sekolah jangan sampe terlalu berdekatan lah, supaya tidak mudah terjadi gesekan antar pelajar nantinya.

7. Awasi kendaraan yang digunakan Siswa. Pengalaman kenalpot motor siwa banyak yang suaranya membludak memekakkan telinga  dan ketika yang mpunya motor melewati kawanan siswa dari sekolah lain, sering ada yang tersinggung dan dari sana juga sering timbul pertikain.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: