MENJALANKAN BISNIS SECARA ETIS DAN BERTANGGUNG JAWAB (Tugas Etika Bisnis Kedua)

Etika merupakan keyakinan mengenai tindakan yang benar dan yang salah, atau tindakan yang baik dan yang buruk, yang mempengaruhi hal lainnya. Nilai-nilai dan moral pribadi perorangan dan konteks sosial menentukan apakah suatu perilaku tertentu dianggap sebagai perilaku yang etis atau tidak etis. Etika bisnis adalah istilah yang biasanya berkaitan dengan perilaku etis atau tidak etis yang dilakukan oleh manajer atau pemilik suatu organisasi. Etika mempengaruhi perilaku pribadi di lingkungan kerja. Tanggung jawab sosial adalah sebuah konsep yang berhubungan, namun merujuk pada seluruh cara bisnis berupaya menyeimbangkan komitmennya terhadap kelompok dan pribadi dalam lingkungan sosialnya. Kelompok dan individu itu sering kali disebut sebagai pihak yang berkepentingan dalam organisasi. Mereka adalah kelompok, orang, dan organisasi yang dipengaruhi langsung oleh praktek-praktek suatu organisasi dan dengan demikian berkepentingan terhadap kinerja organisasi itu. Pihak-pihak utama yang berkepentingan dalam korporasi yaitu karyawan, investor, komunitas lokal, pelanggan, pemasok.

PENDAHULUAN Sebenarnya apakah yang dimaksud perilaku etis itu ? Etika merupakan keyakinan mengenai tindakan yang benar dan yang salah, atau tindakan yang baik dan yang buruk, yang mempengaruhi hal lainnya. Nilai-nilai dan moral pribadi perorangan dan konteks sosial menentukan apakah suatu perilaku tertentu dianggap sebagai perilaku yang etis atau tidak etis. Dengan kata lain, perilaku etis merupakan perilaku yang mencerminkan keyakinan perseorangan dan norma-norma sosial yang diterima secara umum sehubungan dengan tindakan-tindakan yang benar da baik. Perilaku tidak etis adalah perilaku yang menurut keyakinan perseorangan dan norma-norma sosial dianggap salah atau buruk. Etika bisnis adalah istilah yang biasanya berkaitan dengan perilaku etis atau tidak etis yang dilakukan oleh manajer atau pemilik suatu organisasi (Ricky W. Griffin dan Ronald J. Ebert, 2007). Menurut Manuel G. Velasquez (2006), Ethics is the discipline that examines your moral standards or the moral standards of a society to evaluate their reasonableness and their implications for one’s life. Moralty is the standards that an individual or a group has about what is right and wrong or good and evil. Moral Norms and Nonmoral Norms are from the age of three we can distinguished moral from nonmoral norms, from the age of three we tend to think that moral norms are more serious than nonoral norms and apply everywhere independent of what authorities say and the ability to distinguished moral from nonmoral norms in innate and universal. On the other hand, Velasquez (2006) said that Business Ethics is a specialized study of moral right and wrong that concentrates on moral standards as they apply to business institutions, organizations, and behavior. Business Ethic is Applied Ethics. It is the application of our understanding of what is good and right to that assortment of institutions, technologies, transactions, activities, and pursuits that we call business. Etika Individual Karena didasarkan pada konsep sosial dan keyakinan perorangan, etika dapat bervariasi dari satu orang ke orang lainnya, dari satu situasi ke situasi lainnya, serta dari satu budaya ke budaya lainnya. Cakupan standar sosial, cenderung cukup mendukung beberapa perbedaan keyakinan. Tanpa melanggar standar umum suatu budaya, individu dapat mengembangkan kode etik pribadi yang mencerminkan beragam sikap dan keyakinan. Dengan demikian, perilaku etis dan tidak etis sebagian ditentukan oleh individu dan sebagian ditentukan oleh budaya. Sebagai contoh, sesungguhnya setiap orang sepakat bahwa jika Anda melihat seseorang menjatuhkan uang Rp. 100.000,00-nya, Anda bertindak etis dengan mengembalikannya kepada si pemilik. Akan tetapi Anda tidak dapat seyakin itu kalau menemukan uang Rp. 100.000,00 dan tidak tahu siapa yang menjatuhkannya? Ambiguitas, Hukum, dan Dunia Nyata Masyarakat umumnya menerapkan undang-undang formal yang mencerminkan standar etis atau norma sosial yang berlaku. Sebagai contoh, karena kebanyakan orang menganggap pencurian merupakan perilaku tidak etis, kita mempunyai undang-undang melawan perilaku tersebut dan cara menghukum orang yang mencuri. Kita berupaya membuat undang-undang yang tidak bersifat ambigu, namun penafsiran dan penerapannya dapat menyebabkan ambiguitas. Situasi dunia nyata sering dapat ditafsirkan berbeda, dan menerapkan aturan baku ke dunia nyata tidak selalu mudah (Ricky W. Griffin dan Ronald J. Ebert, 2007). Sayangnya, epidemi skandal terbaru yang berkisar dari Arthur Anderson, Enron hingga Martha Stewart, Tyco, dan WorldCom hanya sebatas menunjukkan seberapa besar orang ingin memanfaatkan situasi yang secara potensial bersifat ambigu – situasi inilah yang sesungguhnya memunculkan skandal tersebut (Penelope Patsuris, 2002). Pada tahun 1997, perusahaan Amerika Serikat bernama Tyco secara efektif menjual dirinya dalam merger dengan sebuah perusahaan yang bernama ADT Ltd. ADT lebih kecil dari Tyco, tetapi karena perusahaan induk barunya itu berbasis di wilayah tanpa pajak Bermuda, Tyco tidak lagi harus membayar pajak Amerika Serikat atas pendapatan non-AS-nya. Pada tahun 2000 dan 2001, jumlah cabang-cabang Tyco di negara-negara yang “ramah pajak” menjadi dua kali lipat dari 75 menjadi 150, dan perusahaan menghindari tagihan pajak Amerika Serikat tahun 2001-nya sebesar $600 juta. “Tyco,” keluh seorang anggota senat Amerika Serikat, “telah melakukan seni menghindari pajak,” namun seorang ahli pajak berpendapat bahwa skema Tyco “sangat konsisten” dengan peraturan pajak Amerika Serikat (www.tyco.com). Kode dan Nilai Individu Bagaimana kita berhadapan dengan perilaku bisnis yang kita anggap tidak etis, khususnya bila bersifat ambigu secara hukum ? Jelas kita harus mulai dengan individuindividu dalam bisnis – manajer, karyawan, agen, dan perwakilan hukum lainnya. Kode etik pribadi masing-masing orang ini ditentukan oleh kombinasi sejumlah faktor. Kita mulai membentuk standar etis sebagai seorang anak sebagai tanggapan kita atas perilaku orang tua dan orang dewasa lainnya. Kemudian kita masuk sekolah, di mana kita dipengaruhi temanteman sekolah, dan ketika kita tumbuh menjadi dewasa, pengalaman membentuk hidup kita dan berkontribusi pada keyakinan etis dan perilaku kita. Kita juga mengembangkan nilai-nilai dan moral yang berkontribusi pada standar etis. Jika Anda menempatkan pendapatan finansial pada puncak daftar prioritas Anda, Anda bisa mengembangkan satu kode etik yang mendukung pengejaran kenikmatan material, Jika Anda menempatkan keluarga dan teman sebagai prioritas, Anda akan menganut standar yang berbeda (Ricky W. Griffin dan Ronald J. Ebert, 2007). Etika Bisnis dan Etika Manajerial Etika manajerial merupakan standar perilaku yang memandu manajer dalam pekerjaan mereka. Walaupun etika Anda dapat mempengaruhi kerja Anda dalam sejumlah hal, tidak ada ruginya menggolongkan dalam tiga kategori yang luas. Perilaku Terhadap Karyawan Kategori ini meliputi materi seperti merekrut dan memecat, menentukan kondisi upah dan kerja, serta memberikan privasi dan respek. Pedoman etis dan hukum mengemukakan bahwa keputusan perekrutan dan pemecatan harus didasarkan hanya pada kemampuan karyawan melakukan pekerjaan. Manajer yang mendiskriminasi orang Amerika keturunan Afrika dalam perekrutan menunjukkan perilaku yang tidak etis dan melawan hukum (ilegal). Tetapi bagaimana dengan manajer yang merekrut teman atau sanak keluarga ketika masih ada orang lain yang lebih memenuhi syarat ? Keputusan itu mungkin tidak melawan hukum; namun secara etis tidak dapat diterima. Upah dan kondisi kerja, walaupun diatur oleh undang-undang, juga merupakan bidang yang kontroversial. Bayangkanlah situasi di mana seorang manajer membayar seorang pekerja kurang dari selayaknya karena ia tahu bahwa karyawan itu harus bekerja atau tidak bisa mengeluh lantaran takut diberhentikan. Walaupun beberapa orang akan melihat perilaku itu tidak etis, yang lain akan melihatnya sebagai taktik bisnis yang cerdas. Kasus-kasus seperti ini cukup sulit untuk dinilai, tetapi perhatikanlah perilaku manajemen Enron terhadap karyawan perusahaan (Penelope Patsuris, 2002). Manajemen tersebut mendorong karyawan menginvestasikan dana pensiun dalam saham perusahaan dan kemudian, ketika masalah finansial mulai muncul ke permukaan, tidak mengizinkan mereka menjual saham. Akhirnya, pembubaran perusahaan itu mengorbankan ribuan karyawan

KESIMPULAN

Etika bisnis adalah istilah yang biasanya berkaitan dengan perilaku etis atau tidak etis yang dilakukan oleh manajer atau pemilik suatu organisasi. Kita berupaya membuat undangundang yang tidak bersifat ambigu, namun penafsiran dan penerapannya dapat menyebabkan ambiguitas. Situasi dunia nyata sering dapat ditafsirkan berbeda, dan menerapkan aturan baku ke dunia nyata tidak selalu mudah. Etika mempengaruhi perilaku pribadi di lingkungan kerja. Etika juga tampil dalam hubungan antara perusahaan dan karyawannnya dengan apa yang disebut agen kepentingan primer – terutama pelanggan, pesaing, pemegang saham, pemasok, penyalur, dan serikat buruh. Tanggung jawab sosial adalah sebuah konsep yang berhubungan, namun merujuk pada seluruh cara bisnis berupaya menyeimbangkan komitmennya terhadap kelompok dan pribadi dalam lingkungan sosialnya. Kelompok dan individu itu sering kali disebut sebagai pihak yang berkepentingan dalam organisasi. Mereka adalah kelompok, orang, dan organisasi yang dipengaruhi langsung oleh praktek-praktek suatu organisasi dan, dengan demikian, berpentingan terhadap kinerja organisasi itu. Pihak-pihak utama yang berpentingan dalam Korporasi yaitu: Karyawan, Investor, Komunikasi Lokal, Pelanggan, Pemasok. Dalam penerapan etika dan tanggung jawab sosial tentu juga berkaitan dengan kebiasaan hidup kita sehari-hari. Membuang limbah sembarangan ke laut, berbuat curang dan berbohong merupakan perilaku yang tidak baik untuk ditiru dan akan berhadapan dengan kebiasaan dan hukum yang berlaku di suatu negara khususnya di Amerika Serikat dalam artikel ini. Dalam kasus pembuangan limbah di laut perlu memperhatikan masalah lingkungan secara keseluruhan karena bisa merusak ekosistem di laut dan membunuh binatang laut. Sedangkan dalam kasus akuntabilitas bisnis ImClone yang melibatkan Martha Stewart dan Samuel Waksal, ketidakjujuran dan kecurangan mereka dalam berbisnis berakibat keduanya masuk penjara federal dalam waktu yang cukup lama.

DAFTAR PUSTAKA

First Manhattan Consulting Group, 1996 – 2012.

Karl E. Case and Ray C. Fair, 2009. Principles of Economics, Seventh Edition, Upper

Saddle River, NJ: Prentice Hall.

Manuel G. Velasquez, 2006. Business Ethics, Concepts and Cases, Seventh Edition,

International Edition. Pearson.

Penelope Patsuris, 2000. “Has Purchase Pro Bitten Off More Than It Can Chew?” Forbes

Magazine, July 4th, 2000.

Ricky W. Griffin dan Ronald J. Ebert, 2007. Business, Edisi Kedelapan, Jilid 1, Jakarta:

Erlangga.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1980.

http://www.aol.com

http://www.bms.com

http://www.daimlerchrysler.com

http://www.electrolux.com

http://www.enron.com

http://www.epa.gov

http://www.erbitux.com

http://www.fda.gov

http://www.ford.com

http://www.fortune.com

http://www.hp.com

http://www.imclone.com

http://www.marthastewart.com

http://www.ncl.com

http://www.royalcarribean.com

http://www.sec.gov

http://www.tylenol.com

http://www.tyco.com

http://www.utc.com

http://www.worldcom.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: